
Tamiang, 7 Desember 2025 — Hujan kembali turun. Genang air belum juga surut. Sudah hari ke-11 sejak banjir besar melumpuhkan Aceh Tamiang, dan tenda-tenda masih berdiri di halaman rumah, di tepi jalan, di tanah lapang yang tak lagi rata. Di sana, masyarakat bertahan — bukan karena mampu, tapi karena tak ada pilihan lain. “Rumah sakit praktis tidak berfungsi,” suara lelah dari seorang dokter terdengar di balik sambungan telepon. “Layanan kesehatan lumpuh. Banyak tenaga medis yang akhirnya pergi ke Langsa — karena di sana, rumah sakit sudah bisa jalan.”
Lalu terdengar tanya lirih, seperti menampar realitas:
“Bagaimana dengan Tamiang? Apakah tidak ada pasien?” Dokter itu menarik napas panjang. “Pasti ada. Hanya saja mereka tak tahu harus ke mana. Bagi masyarakat, ‘tempat berobat’ berarti Puskesmas atau rumah sakit. Kalau itu pun tak berfungsi, mereka hanya bisa pasrah. Untuk makan saja sudah susah.” Hening beberapa detik. Suara hujan terdengar di latar. “Sebagai dokter,” katanya lagi, “saya sangat sedih. Bukan hanya karena luka-luka akibat banjir — tertimpa kayu, terkena paku, luka kaca, ISPA, diare, dan lainnya — tapi juga karena pasien kronis yang kini terjebak dalam kesakitan tanpa obat.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Mereka yang butuh cuci darah, pengidap talasemia, atau diabetes yang tak punya obat lagi… mungkin kini sedang sekarat.”
Kemarin pagi ia menyusuri Rumah Sakit Tamiang. “Masih berlumpur. Fasilitas rusak. Butuh waktu dan kepemimpinan untuk memulai kembali pelayanan di sana. Minimal fungsikan IGD dulu — itu tanda kita bangkit.” Harapan itu masih menyala di tengah lumpur. “Kalau IGD bisa berjalan, pasien akut bisa dapat tempat. Tapi untuk pasien kronis, sementara ini solusi satu-satunya adalah evakuasi ke Langsa atau Medan.” Ia bicara cepat, penuh semangat sekaligus keputusasaan.
“Tamiang harus dibantu. Peminjaman 20–30 ambulans untuk siaga. Relawan sepeda motor dengan dokter umum harus masuk ke kampung-kampung mencari pasien. Kalau ada yang serius, rujuk segera. Sementara tim lain siapkan rumah sakit supaya bisa fungsi kembali.”
Dari ujung Tamiang, dengan mata yang tak sempat benar-benar tidur,
Safrizal Rahman,
Dekan FK USK