
Banda Aceh, 20 September 2026 — SCOPH CIMSA Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (CIMSA FK USK) melaksanakan OXYGEN 2026 di Pesantren Modern Al-Manar, Banda Aceh. Kegiatan yang berlangsung pada pukul 08.00–11.36 WIB ini diikuti oleh 70 siswa/i kelas VII dengan dukungan 35 panitia. Mengangkat tema edukasi Tuberkulosis, kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran peserta mengenai gejala, cara penularan, pencegahan, deteksi dini, pengobatan, serta pentingnya menghindari stigma terhadap penderita TBC.
Pemilihan Pesantren Modern Al-Manar sebagai lokasi kegiatan juga menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang lebih dekat dengan komunitas di sekitar FK USK dan membuka peluang kolaborasi kesehatan yang berkelanjutan di masa mendatang.
Rangkaian OXYGEN 2026 diawali dengan sesi edukasi interaktif mengenai TBC yang menghadirkan Dr. dr. Mulkan Azhary, M.Sc., Sp.P(K), FAPSR, selaku Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Aceh sekaligus Direktur Rumah Sakit Pendidikan USK. Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai TBC, mulai dari pengenalan gejala, mekanisme penularan, faktor risiko, pencegahan, hingga pentingnya deteksi dini dan pengobatan. Edukasi kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang memberikan ruang bagi peserta untuk menyampaikan pertanyaan dan memperdalam pemahaman mereka. Kehadiran dokter spesialis paru dari PDPI menjadi salah satu bagian penting dalam OXYGEN 2026, karena peserta tidak hanya memperoleh informasi kesehatan dari mahasiswa, tetapi juga mendapatkan edukasi langsung dari tenaga medis yang memiliki keahlian di bidang penyakit paru.

Setelah sesi edukasi, peserta mengikuti Focus Group Discussion (FGD) dan Mini Puzzle Games yang dirancang untuk memperkuat pemahaman melalui pendekatan partisipatif dan menyenangkan. Melalui diskusi, permainan, dan aktivitas kelompok, peserta diajak untuk menerapkan kembali informasi yang telah diperoleh mengenai gejala TBC, cara penularan, langkah pencegahan, serta pentingnya menjaga lingkungan yang mendukung kesehatan, seperti ventilasi dan sirkulasi udara yang baik. Rangkaian kegiatan ini juga memberikan gambaran perubahan pemahaman peserta dari sebelum hingga setelah mengikuti edukasi. Peserta yang sebelumnya mungkin hanya mengenal TBC sebagai penyakit yang berkaitan dengan batuk kemudian diajak memahami bahwa TBC memiliki tanda dan gejala tertentu, dapat dicegah melalui perilaku yang tepat, membutuhkan deteksi serta pengobatan yang sesuai, dan tidak seharusnya menjadi alasan untuk memberikan stigma atau diskriminasi kepada penderitanya. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu peserta membawa pengetahuan yang diperoleh ke dalam kehidupan sehari-hari di pesantren, keluarga, dan lingkungan masyarakat.
Rancangan aktivitas dalam OXYGEN 2026 turut dikembangkan oleh Rafeyva Alya Fuadri selaku Local Public Health CIMSA FK USK 2025–2026. Sebagai bagian dari proses perancangan kegiatan, ia menekankan pentingnya pendekatan promotif dan preventif dalam meningkatkan kesadaran kesehatan sejak dini. “Saya percaya bahwa meningkatkan kesehatan bukan hanya tentang menangani masalah ketika sudah terjadi, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa mencegahnya sejak awal dengan mengenali faktor risikonya. Dari pemikiran itu, OXYGEN saya rancang sebagai langkah kecil untuk meningkatkan kesadaran generasi muda tentang TB dan bagaimana kita bisa mencegahnya,” ujar Rafeyva.

Kegiatan ditutup melalui awarding session dan refleksi terhadap rangkaian kegiatan yang telah dilalui. Selain meningkatkan pengetahuan mengenai TBC, OXYGEN 2026 diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian peserta terhadap kesehatan diri dan lingkungan sekitar. Semangat tersebut sejalan dengan harapan pihak Pesantren Modern Al-Manar agar para santri tidak hanya memahami pentingnya menjaga kesehatan, tetapi juga turut mengambil peran dalam menciptakan lingkungan pesantren yang sehat sebagai bagian dari ikhtiar dan kepedulian bersama. Keberlanjutan juga menjadi salah satu perhatian dalam pelaksanaan OXYGEN 2026. Kedekatan Pesantren Modern Al-Manar dengan FK USK menjadi peluang untuk membangun hubungan yang lebih berkelanjutan, dengan harapan pesantren ini dapat berkembang menjadi pesantren binaan FK USK dan menjadi ruang kolaborasi untuk berbagai upaya promotif dan preventif kesehatan di masa mendatang.

Project Officer OXYGEN 2026, Rais Aulia, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang untuk memberikan edukasi mengenai TBC, tetapi juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa kedokteran untuk belajar hadir dan memberikan manfaat secara langsung di tengah masyarakat. “Melalui OXYGEN, kami berharap edukasi yang diberikan tidak berhenti pada pengetahuan yang didapatkan di hari kegiatan, tetapi juga dapat menjadi langkah kecil yang menumbuhkan kepedulian santri terhadap kesehatan diri, teman, dan lingkungan di sekitarnya. Sementara itu, Dr. dr. Nur Wahyuniati, M.Imun., Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kemitraan FK USK, turut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya membangun hubungan dan memberikan manfaat kepada lingkungan terdekat. Nilai tersebut sejalan dengan semangat Islam untuk saling menolong dalam kebaikan dan kepedulian terhadap sesama. Kedekatan Pesantren Modern Al-Manar dengan FK USK diharapkan menjadi awal dari terjalinnya kerja sama yang dapat membuka lebih banyak kebaikan di masa mendatang. Pelaksanaan OXYGEN 2026 juga mendapat dukungan dari Bank Aceh dan BPMA Pema Global Energi melalui dukungan pendanaan terhadap kegiatan. Kolaborasi berbagai pihak tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung terselenggaranya edukasi kesehatan bagi generasi muda. Secara khusus, OXYGEN 2026 berkontribusi pada Sustainable Development Goals (SDGs) 3: Good Health and Well-being melalui peningkatan literasi kesehatan, pencegahan penyakit, serta penguatan kesadaran terhadap TBC. Kegiatan ini juga mendukung SDGs 4: Quality Education melalui penyampaian edukasi kesehatan dengan metode yang interaktif dan sesuai dengan karakteristik peserta. Dengan berakhirnya OXYGEN 2026, diharapkan langkah kecil yang telah dimulai di Pesantren Modern Al-Manar dapat terus berkembang menjadi kolaborasi yang berkelanjutan. Sebab, menjaga kesehatan bukan hanya tentang melindungi diri sendiri, tetapi juga tentang menghadirkan manfaat bagi orang-orang dan lingkungan di sekitar kita.