
Banda Aceh, 24 Agustus 2026 — Program Studi Pendidikan Dokter Subspesialis Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala kembali melaksanakan Sidang Hasil Penelitian dari Divisi Endokrinologi, Metabolisme, dan Diabetes. Sidang dilaksanakan di Ruang Sidang Subspesialis Departemen Ilmu Penyakit Dalam, dengan penelitian tesis berjudul “Hubungan Insulin Serum Puasa, Homeostatic Model Assessment of Insulin Resistance (HOMA-IR), dan Kadar Kortisol Serum Pagi pada Pasien Pengguna Glukokortikoid Kronik.” Tesis ini disusun oleh T. Mirzal Safari sebagai bagian dari pendidikan Subspesialis Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala.
Penggunaan glukokortikoid jangka panjang merupakan bagian penting dalam tata laksana berbagai penyakit inflamasi dan autoimun. Namun, selain memberikan manfaat terapeutik, paparan glukokortikoid kronik dapat menimbulkan gangguan metabolisme, resistensi insulin, serta supresi aksis hipotalamus–pituitari–adrenal (HPA) yang dapat meningkatkan risiko insufisiensi adrenal. Penelitian ini berangkat dari pertanyaan apakah perubahan metabolik yang tercermin melalui insulin serum puasa dan HOMA-IR memiliki keterkaitan dengan kadar kortisol serum pagi sebagai salah satu indikator fungsi aksis HPA.
Penelitian analitik dengan desain potong lintang ini melibatkan 53 pasien pengguna glukokortikoid kronik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi kadar insulin serum puasa, semakin rendah kadar kortisol serum pagi. Hubungan negatif yang serupa juga ditemukan antara HOMA-IR dan kadar kortisol serum pagi.
Setelah dilakukan penyesuaian terhadap umur, indeks massa tubuh, dan HbA1c, insulin serum puasa tetap menunjukkan hubungan independen dengan kadar kortisol serum pagi. Sementara itu, HOMA-IR menunjukkan arah hubungan negatif yang sama, meskipun belum mencapai signifikansi statistik pada analisis multivariat.
Membuka Hipotesis Baru
Salah satu hal menarik dari penelitian ini adalah munculnya hipotesis baru bahwa insulin serum puasa dan HOMA-IR mungkin memiliki potensi untuk dipertimbangkan sebagai parameter tambahan dalam mengenali risiko insufisiensi adrenal pada pengguna glukokortikoid kronik.
Namun, temuan ini tidak dimaksudkan untuk menjadikan insulin serum puasa atau HOMA-IR sebagai alat diagnosis insufisiensi adrenal. Keduanya lebih tepat dipandang sebagai parameter metabolik yang berpotensi melengkapi penilaian klinis dan pemeriksaan fungsi aksis HPA, sehingga pada pasien dengan profil metabolik tertentu dapat menjadi pertimbangan untuk melakukan evaluasi fungsi adrenal lebih lanjut.
Hipotesis ini masih memerlukan pembuktian melalui penelitian berikutnya dengan jumlah subjek yang lebih besar, desain longitudinal, serta pemeriksaan fungsi aksis HPA yang lebih komprehensif. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar teoritis untuk mengembangkan penelitian lanjutan yang mengeksplorasi hubungan antara resistensi insulin, hiperinsulinemia, dan supresi aksis HPA pada pengguna glukokortikoid kronik.
Apresiasi dan Terima Kasih
Penyelesaian penelitian ini tidak terlepas dari bimbingan dan dukungan berbagai pihak. Penghargaan dan ucapan terima kasih disampaikan kepada Dr. dr. Hendra Zufry, Sp.PD, K-EMD, FINASIM selaku Pembimbing I sekaligus Kepala Departemen Ilmu Penyakit Dalam USK dan dr. Krishna W. Sucipto, Sp.PD, K-EMD, FINASIM selaku Pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama proses penelitian hingga penyelesaian tesis.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Dr. dr. Abdullah, Sp.PD-KGH, FINASIM; Dr. dr. M. Diah, Sp.PD-KKV, FCIC, FINASIM; dr. Mahriani Sylvawani, Sp.PD-KR, FINASIM; dan dr. Vera Abdullah, Sp.PD-KPsi, FINASIM selaku dosen penguji yang telah memberikan kritik, masukan, dan saran yang berharga bagi penyempurnaan penelitian ini.
Apresiasi juga diberikan kepada seluruh dosen dan sejawat Program Studi Subspesialis Ilmu Penyakit Dalam, keluarga, sahabat, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan moral, akademik, dan spiritual selama proses pendidikan dan penelitian.
Penelitian ini diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah hasil tesis, tetapi menjadi langkah awal untuk membangun pemahaman yang lebih luas mengenai hubungan antara metabolisme dan fungsi adrenal. Dari sebuah temuan klinis, diharapkan lahir pertanyaan-pertanyaan ilmiah baru yang pada akhirnya dapat dikembangkan menjadi penelitian lanjutan dan, bila terbukti secara konsisten, memberikan kontribusi terhadap pendekatan klinis pada pasien pengguna glukokortikoid kronik.