Banda Aceh — Peran Patologi Klinik menjadi salah satu aspek penting dalam pengelolaan pasien hemofilia yang dibahas dalam seminar ilmiah “Comprehensive Hemophilia and Inhibitor Management: Strengthening Diagnosis, Referral, and Multidisciplinary Management” yang berlangsung di Ayani Hotel Banda Aceh, Sabtu (29/8/2026). Mengangkat fokus pada diagnosis, deteksi inhibitor, serta pengelolaan secara multidisiplin, kegiatan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya penguatan kapasitas laboratorium hemostasis dalam mendukung pelayanan hemofilia yang komprehensif.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia (PHTDI) Aceh dan PT Takeda tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang keilmuan untuk membahas hemofilia secara komprehensif mulai dari pengenalan penyakit, diagnosis, deteksi inhibitor, hingga penatalaksanaan dan rehabilitasi pasien.

Narasumber dan moderator seminar (kiri-kanan): Dr. dr. Nasyaruddin Herry Taufik, Sp.KFR, M.Sc(K), AIFO-K, FISCM; dr. Muhammad Fuad, Sp.PD-KHOM, FINASIM; dr. Vivi Keumala Mutiwati, Sp.PK, Subsp.HK(K), M.Kes; dr. Muhammad Riswan, Sp.PD-KHOM, FINASIM; dr. Eka Destianti, M.Ked(Ped), Sp.A(K); dr. Heru Noviat Herdata, Sp.A.

Sesi pertama, dr. Muhammad Riswan, Sp.PD-KHOM, FINASIM membawakan materi mengenai Recognizing and Managing Hemophilia: Early Detection, Bleeding Control and the Referral Pathway. Materi tersebut dilanjutkan oleh dr. Heru Noviat Herdata, Sp.A yang membahas When to Suspect an Inhibitor: Case-Based Perspectives on Diagnosis, Referral, and Management. Aspek pemulihan fungsi pasien dibahas oleh Dr. dr. Nasyaruddin Herry Taufik, Sp.KFR, M.Sc(K), AIFO-K, FISCM melalui materi Rehabilitating Joints and Restoring Function in Hemophilia.

Pemeriksaan laboratorium memiliki posisi strategis dalam penanganan hemofilia, tidak hanya untuk membantu menegakkan diagnosis, tetapi juga menentukan karakteristik gangguan koagulasi, memantau terapi, serta mendeteksi keberadaan inhibitor faktor pembekuan secara dini. Perspektif tersebut menjadi sorotan melalui materi “The Laboratory’s Role in Diagnosing Hemophilia and Detecting Inhibitors Early” yang disampaikan oleh dr. Vivi Keumala Mutiwati, Sp.PK, Subsp.HK(K), M.Kes.

Penyampaian materi oleh dr. Vivi Keumala Mutiwati, Sp.PK, Subsp.HK(K), M.Kes yang menjelaskan peran bidang Patologi Klinik khususnya Hematologi dan Hemostasis dalam menyediakan informasi laboratorium yang menjadi dasar bagi klinisi dalam menentukan langkah diagnosis dan tatalaksana. Pemeriksaan hemostasis pada pasien dengan dugaan hemofilia dapat membantu mengarahkan diagnosis melalui evaluasi parameter koagulasi dan pemeriksaan faktor pembekuan yang sesuai.

Deteksi inhibitor juga menjadi aspek penting dalam pemeriksaan laboratorium hemofilia. Inhibitor merupakan antibodi yang dapat terbentuk terhadap faktor pembekuan yang diberikan sebagai terapi sehingga respons terhadap terapi dapat berkurang. Kondisi tersebut memerlukan identifikasi yang tepat agar pasien dapat memperoleh penanganan sesuai kondisi klinisnya.

Seminar tersebut juga memperlihatkan bahwa pengelolaan hemofilia tidak dapat berdiri sendiri. Patologi Klinik menjadi salah satu mata rantai penting dalam jejaring multidisiplin, bersama dokter spesialis penyakit dalam, anak, kedokteran fisik dan rehabilitasi, serta bidang lainnya. Hasil pemeriksaan laboratorium yang akurat dan diinterpretasikan dalam konteks klinis menjadi dasar penting dalam proses pengambilan keputusan dan rujukan pasien.

Bagi dunia akademik dan pelayanan kesehatan, penguatan kompetensi Patologi Klinik dalam bidang Hematologi dan Hemostasis diharapkan dapat mendukung deteksi hemofilia secara lebih dini, meningkatkan ketepatan pemeriksaan inhibitor, serta memperkuat komunikasi antara laboratorium dan klinisi dalam memberikan pelayanan yang berkesinambungan bagi pasien.

(Vivi Keumala Mutiawati, Salsabila – Prodi Patologi Klinik FK USK)